1. Mengetahui
nama-nama pestisida.
2. Mengetahui
macam jenis pestisida.
3. Mengetahui
cara penggunaan masing-masing pestisida.
4. Mengetahui
masing-masing fungi, bahan aktif, dosis, sifat dll dari pestisida.
B.
DASAR TEORI
Definisi
Pestisida secara harfiah berarti pembunuh hama, berasal dari kata pest dan
sida. Pest meliputi hama penyakit secara luas, sedangkan sida berasal
dari kata “caedo” yang berarti membunuh. Pada umumnya pestisida, terutama
pestisida sintesis adalah biosida yang tidak saja bersifat racun terhadap jasad
pengganggu sasaran. Tetapi juga dapat bersifat racun terhadap manusia dan jasad
bukan target termasuk tanaman, ternak dan organisma berguna lainnya
(Tarumingkeng, 2008).
Pestisida
secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang digunakan untuk
mengendalikan jasad penganggu yang merugikan kepentingan manusia. Dalam
sejarah peradaban manusia, pestisida telah cukup lama digunakan terutama dalam
bidang kesehatan dan bidang pertanian. Di bidang kesehatan, pestisida merupakan
sarana yang penting. Terutama digunakan dalam melindungi manusia dari gangguan
secara langsung oleh jasad tertentu maupun tidak langsung oleh berbagai vektor
penyakit menular. Berbagai serangga vektor yang menularkan penyakit berbahaya
bagi manusia, telah berhasil dikendalikan dengan bantuan pestisida. Dan berkat
pestisida, manusia telah dapat dibebaskan dari ancaman berbagai penyakit
berbahaya seperti penyakit malaria, demam berdarah, penyakit kaki gajah, tiphus
dan lain-lain (Hidayat, 1981).
Di
bidang pertanian, penggunaan pestisida juga telah dirasakan manfaatnya untuk
meningkatkan produksi. Dewasa ini pestisida merupakan sarana yang sangat
diperlukan. Terutama digunakan untuk melindungi tanaman dan hasil
tanaman, ternak maupun ikan dari kerugian yang ditimbulkan oleh berbagai jasad
pengganggu. Bahkan oleh sebahagian besar petani, beranggapan bahwa pestisida
adalah sebagai “dewa penyelamat” yang sangat vital. Sebab dengan bantuan
pestisida, petani meyakini dapat terhindar dari kerugian akibat serangan jasad
pengganggu tanaman yang terdiri dari kelompok hama, penyakit maupun gulma.
Keyakinan tersebut, cenderung memicu pengunaan pestisida dari waktu ke waktu
meningkat dengan pesat (Ekha, 1988).
Tetapi
pada praktiknya pemakaian pestisida dapat menimbulkan bahaya pada organisme non
target. Berbagai dampak dapat disebabkan oleh penggunaan pestisida mulai dampak
yang tak terlihat seperti residu hingga dampak keracunan baik bagi tanaman
maupun manusia yang menggunakannya. Dampak negatif terhadap organisme non
target meliputi dampak terhadap lingkungan berupa pencemaran dan menimbulkan
keracunan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi manusia (Benn, 1975).
Kelompok
utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan jenis
formulasi adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedangkanjenis pestisida
yang lain diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan
demikian penggolongan pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :
1. Insektisida
: yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa
serangga. Contoh : Bassa 50 EC, sidacron, sidabas, arrivo 30 Ec, ripcord,
beve-2, sevin dan flora one beve-2.
2. Nematisida
: yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa
cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan.
3. Rodentisida
: yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat,
seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl,
Bromodoiline dan lain-lain. (Mulyadi, 1982).
4. Herbisida
: adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman
pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.
5. Fungisida
: digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh :
Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.
6. Akarisida
: yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa
tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.
7. Bakterisida
: yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang
disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Benidiktus . 2010)
Pestisida sebelum digunakan harus
diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi
oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke
formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama. Berikut ini beberapa
formulasi pestisida yang sering dijumpai:
1. Cairan
emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates) Pestisida yang
berformulasi cairan emulsi meliputi pestisida yang di belakang nama dagang
diikuti oleb singkatan ES (emulsifiable solution), WSC (water soluble
concentrate). B (emulsifiable) dan S (solution). Biasanya di muka singkatan
tersebut tercantum angka yang menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila
angka tersebut lebih dari 90 persen berarti pestisida tersebut tergolong murni.
Komposisi pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif,
pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi
karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk
emulsi.
2. Butiran
(granulars) Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian
sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk
melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri
atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan
perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen, dengan ukuran
butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding
dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang
biasanya tercantum singkatan G atau WDG (water dispersible granule).
3. Debu
(dust) Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif
dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu
ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen
saja apabila pestisida formulasi debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran
(tanaman).
4. Tepung
(powder) Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan
aktif dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen).
Untuk mengenal pestisida formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang
tercantum singkatan WP (wettable powder) atau WSP (water soluble powder).
5. Oli
(oil) Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO
(solluble concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti
xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra
low volume) dengan menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada
tanaman kapas. (Untung, 1984)
C. ALAT DAN BAHAN
C. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
·
Alat tulis
·
Kertas
b. Bahan
·
Round Up (Herbisida)
·
Sidacron (Insektisida)
·
Rambo (Herbisida)
·
Furadan (Insektisida/nematisida)
·
Bassa 50 EC (Insektisida)
·
Sidabas (Insketisida)
·
Arrivo 30 EC (Insektisida)
·
Ripcord (Insektisida)
·
Dupon curzate (Fungisida)
·
Demorf 60 wp (Fungisida)
·
Copade 77WP (Fungisida)
·
Plantomycin (Bakterisida)
·
Sevin (Insektisida)
·
Flora one Beve-2 (Insektisida hayati)
·
Trico-2 (Fungisida hayati)
·
Ridomil gold (Fungisida)
·
Beve-2 (insektisida)
D. CARA
KERJA
1. Menyiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati
pestisida dan mencatat dilengkapi dengan nama dagang, golongan, bahan aktif,
bentuk, warna, opt sasaran, tanaman, konsentrasi dan dosis.
E. HASIL
PRAKTIKUM
Terlampir (3 lembar)
F. PEMBAHASAN
Pestisida
adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang
digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah
sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang
disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya
seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain
yang dianggap merugikan. Pestisida juga diartikan sebagai substansi kimia dan
bahan lain yang mengatur dan atau menstimulir pertumbuhan tanaman atau
bagian-bagian tanaman. Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT),
penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama,
namun lebih dititiberatkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga
berada dibawah batas ambang ekonomi atau ambang kendali (Harahap. 1997).
Pestisida
merupakan bahan yang telah banyak memberikan manfaat untuk keberlangsungan
dunia produksi pertanian. Banyaknya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang
dapat menurunkan hasil panen, dapat diminimalisir dengan pestisida. Sehingga
kehilangan hasil akibat OPT tidak terlalu besar. Selain bidang pertanian,
pestisida juga memberikan banyak manfaat untuk membantu masalah yang timbul
akibat adanya organisme pengganggu di tingkat rumah tangga. Seperti pembasmian
nyamuk misalnya, dengan adanya pestisida maka proses pembasmian nyamuk akan
menjadi lebih cepat dan efisien. Bahkan masih banyak lagi peranan pestisida
bagi kehidupan manusia di berbagai bidang (Matnawy, 1991).
Adapun macam-macam pestisida yaitu sebagai
berikut :
1. Insektisida, yaitu
pestisida yg digunakan untuk memberantas serangga, seperti belalang, kepik,
wereng, dan ulat. Beberapa jenis insektisida juga dipakai untuk memberantas
sejumlah serangga pengganggu yg ada di rumah, perkantoran, atau gudang, seperti
nyamuk, kutu busuk, rayap, dan semut. Contoh insektisida adalah basudin,
basminon, tiodan, diklorovinil dimetil fosfat, dan diazinon. Insektisida
adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan serangga dengan membunuh
mereka atau mencegah mereka dari terlibat dalam perilaku yang dianggap tidak
diinginkan atau destruktif. Insektisida diklasifikasikan berdasarkan struktur
dan cara kerja. Banyak insektisida bertindak atas sistem saraf serangga
(misalnya, Cholinesterase (ChE) penghambatan) sementara yang lain bertindak
sebagai regulator pertumbuhan atau endotoksin. Memahami cara tindakan ini dapat
membantu dalam identifikasi calon yang menyebabkan-terutama ketika tes enzim
atau tes serupa yang digunakan dalam identifikasi gejala organisme yang
terpengaruh (Pracaya. 2008). Pada praktikum Pengenalan Pestisida ini, terdapat
9 jenis pestisida yang tergolong ke dalam insektisida, diantaranya adalah sidacron,
furadan, bassa 50 Ec, sidabas, arrivo 30 Ec, ripcord, sevin, flora one beve-2
dan beve -2.
2. Fungisida, yaitu
pestisida yg dipakai untuk memberantasdan mencegah pertumbuhan jamur atau
cendawan. Bercak yg ada pada daun, karat daun, busuk daun, dan cacar daun
disebabkan oleh serangan jamur. Beberapa contoh fungisida adalah tembaga
oksiklorida, tembaga (I) oksida, karbendazim, organomerkuri, dan natrium
dikromat. Fungisida berasal dari kata Fungi yaitu Jamur, kapang atau
cendawan sedangkan sida atau cidebisa diartikan racun atau
pembasmi. Bentuk dari fungisida bermacam-macam dari mulai berbentuk cair, gas,
butiran, dan serbuk, namun yang sering kita jumpai berbentuk cair dan tepung.
penggunaan Fungisida biasanya digunakan pada benih, umbi, akar, dan organ
propagatif lainnya yakni untuk menghindari tumbuhnya cendawan dengan cara
diinjek pada batang ataupun disemprotkan secara langsung. Pada praktikum Pengenalan
Pestisida ini, terdapat 5 jenis pestisida yang tergolong ke dalam fungisida,
diantaranya adalah pupuk dengan nama dagang Ridomil gold, Capade 77WP, dupon
curzate, demorf 60 wp, dan trico-2
3. Bakterisida, yaitu
pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Pada umumnya, tanaman yg sudah
terserang bakteri sukar untuk disembuhkan. Oleh karena itu, bakterisida
biasanya diberikan kepada tanaman yg masih sehat. Salah satu contoh dari
bakterisida adalah tetramycin, sebagai pembunuh virus CVPD yg menyerang tanaman
jeruk. Bakterisida adalah senyawa yang mengandung bahan aktif beracun yang
bisa membunuh bakteri. Serangan bakteri pada tanaman cukup merugikan petani.
Tumbuhan tingkat rendah yang sangat kecil inin dilihat dari bentuknya ada yang
bulat, berbentuk batang, dan spiral. Panjangnya antara 0,15 – 6 mikron dan
berkembang biak dengan membelah diri (Pracaya. 2008). Pada praktikum
Pengenalan Pestisida ini, terdapat 1 jenis pestisida yang tergolong ke dalam
bakterisida yaitu pestisida dengan nama dagang Plantomycin.
4. Nematisida, adalah
pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa nematoda
(cacing). Hama jenis ini biasanya menyerang bagian akar dan umbi tanaman.
Nematisida biasanya digunakan pada perkebunan kopi atau lada. Nematisida
bersifat dapat meracuni tanaman, jadi penggunaannya 3 minggu sebelum musim
tanam. Selain memberantas nematoda, obat ini juga dapat memberantas serangga
dan jamur. Dipasaran dikenal dengan nama DD, Vapam, dan Dazomet. Nematisida
adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman seperti cacing.
Hama jenis ini biasanya menyerang bagian akar dan umbi tanaman. Pestisida
seperti ini biasanya digunakan pada perkebunan kopi atau lada. Nematisida
bersifat dapat meracuni tanaman, jadi penggunaannya harus dilakukan 3 minggu
sebelum musim tanam. Selain mampu memberantas cacing, obat ini juga dapat
memberantas serangga dan jamur. Terdapat 1 jenis pestisida yang tergolong
nematisida ini yaitu pestisida dengan nama dagang Furadan.
5. Herbisida, yaitu
pestisida yg digunakan untuk membasmi tanaman pengganggu (gulma), seperti
alang-alang, rerumputan, dan eceng gondok. Contoh dari herbisida adalah
ammonium sulfonat dan pentaklorofenol. Herbisida berasal dari senyawa
kimia organik maupun anorganik atau berasal dari metabolit hasil ekstraksi dari
suatu organisme. Herbisida bersifat racun terhadap gulma atau tumbuhan
pengganggu, juga terhadap tanaman. Herbisida yang diaplikasikan dengan dosis
tinggi akan mematikan seluruh bagian tumbuhan. Namun pada dosis yang lebih
rendah, herbisida akan membunuh tumbuhan tertentu dan tidak merusak tumbuhan
yang lainnya (Untung, 2002). Terdapat 2 jenis pestisida yang tergolong
herbisida ini yaitu pestisida dengan nama dagang Round Up, dan rambo
Adapun beberapa formulasi pestisida
yaitu digolongkan berdasarkan bentuknya yaitu :
1. Bentuk
Cair
Maksudnya adalah bentuk
pestisidanya berupa cairan yang biasanya dapat diaplikasikan dengan penambahan
air. Ada beberapa yang termasuk ke dalam pestisida ini yaitu :
a. EC
(Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate). Sediaan berbentuk pekatan
(konsentrat) cair dengankonsentrasi bahan aktifd yang cukup tinggi. Kosentrasi
ini jika dicampur dengan air akan membentuk emilsi (butiran denda cair yang
melayang dalam media cair lain). EC umumnya digunakan dengan cara disemprot,
meskipun dapat pula digunakan dengan cara lain.
b. Soluble
Concentrate in water (WSC) atau Water Soluble Concentrate (WSC). Formulasi ini
mirip EC, tetapi bila dicampur air tidak membentuk emulsi, melainkan membentuk
larutan homogen. Umumnya, sediaan ini digunakan dengan cara disemprotkan.
c. Aeous
Solution (AS) atau Aquaous Concentrate (AC). pekatan ini diarutkan dalam air.
Persisida yang diformulasi dalam bentuk AS dan AC umumnya pestisida berbentuk
garam yang mempunyai kelarutan tinggi dalam air. Pestisida ini juga dighunakan
dengan cara disemprot.
d. Soluble
(SL). Pekatan cair ini jika dicampurkan air akan membentuk larutan. Pestisida
ini digunakan dengan cara disemprotkan. SL juga dapat mengacu pada formulasi slurry.
e. Flowable
(F) atau Flowabel ini Water (FW). Formulasi ini berupa konsentrasi cair yangs
angat pekat. Bila dicampur air, F atau FW akan membentuk emilsi seperti halnya
WP. Pada dasarnya FW adalah WP yang dibasahkan.
f. Ultra
Low Volume (ULV). Sediaan khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah,
yakni volume semprot antara 1 hingga 5 liter/hektar. ULV umumnya merupakan
sdiaan siap pakai, tanpa harus dicampur dengan air.
2. Bentuk
padat, yaitu pestisida yang digunakan dapat berupa padat biasanya berupa tepung
ataupun butiran. Beberapa formulasi yang termasuk kedalam pestisida padat :
a. Wettable
Powder (WP). Formulasi WP bersama EC merupakan formulasi klasik yang masih
banyak digunakan saat ini. WP adalah formulasi bentuk tepung yang bila dicampur
air akan membentuk suspensi yang penggunaannya dengan cara disemprot.
b. Soluble
powder (S atau SP). Formulasi bentuk tepung yang bia dicampur air akan
menghasilkan larutan homogen. Pestisida ini juga digunakan dengan cara
disemprotkan.
c. Butiran
(G). Butiran yang umumnya merupakan sedian siap pakai dengan konsetrasi rendah.
Pestisida butiran digunakan dengan cara ditaburkan di lapagan (baik secara
manual dengan tangan atau dengan mesin penabur) setelah penaburan dapat diikuti
denga pegolahan tanah atai tidak. Disamping formulasi G dikenal juga fomulasi
SG, yakni sand granular.
d. Water
Dipersible Granule (WG atau WDG). WDG atau WG berbentuk butiran, mirip G,
tetapi penggunaanya sangat berbeda. Formulasi WDG harus diencerkan denga air
dan digunakan dengan cara disemprotkan.
e. Seed
dreesing (SD) atau Seed Treatment (ST). Sediaan berbentuk tepung yang khusus
digunakan untuk perawatan benih.
f. Tepung
Hembus atau Dust (D). Sediaan siap pakai dengan konsentrasi rendah yang
digunakan dengan cara dihembuskan.
g. Umpan
atau bait (B) ready Mix Bait (RB atau RMB). umpan merupakan formulasi siap
pakai yang umumya digunakan untuk formulasi rodentisida (Endah, 2005).
Dalam penggunaan pestisida perlu
diketahui cara penggunaannya serta penggunaan pestisida dapat melihat 6 aspek
yang perlu dipertimbangkan saat pemakaian pestisida, yaitu :
a. Tepat
sasaran adalah pestisida yang digunakan harus berdasarkan jenis OPT yang
menyerang. Sebelum menggunakan pestisida, langkah awal yang harus dilakukan
ialah melakukan pengamatan untuk mengetahui jenis OPT yang menyerang. Langkah
selanjutny aialah memilih jenis pestisida yang sesuai dengan OPT tersebut.
Sebagai contoh : Apabila OPT yang menyerang adalah serangga maka dipilih
insektisida, kalau hama tikus yang menyerang maka pilih rodentisida.
b. Tepat
mutu ialah pestisida yang digunakan harus bermutu baik. Untuk itu agar dipilih
pestisida yang terdaftar dan diijinkan oleh Komisi Pestisida. Jangan
menggunakan pestisida yang tidak terdaftar, sudah kadaluarsa, rusak atau yang
diduga palsu karena efikasinya diragukan dan bahkan dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman. Pestisida yang terdaftar dan diijinkan beredar di
Indonesia kemasannya diharuskan menggunakan bahasa Indonesia.
c. Tepat
Jenis Pestisida. Suatu jenis pestisida belum tentu dianjurkan untuk
mengendalikan semua jenis OPT pada semua jenis tanaman. Oleh karena itu agar
dipilih jenis pestisida yang dianjurkan untuk mengendalikan suatu jenis OPT
pada suatu jenis tanaman. Informasi tersebut dapat dilihat pada label atau
kemasan pestisida.
d. Tepat
Waktu Penggunaan. Waktu penggunaan pestisida harus tepat, yaitu pada saat OPT
mencapai ambang pengendalian dan penyemprotannya harus dilakukan pada sore hari
(pukul 16.00 atau 17.00) ketika suhu udara < 30 oC dan kelembaban
udara 50-80%.
e. Tepat
Dosis atau Konsentrasi Formulasi. Dosis atau konsentrasi formulasi harus tepat
yaitu sesuai dengan rekomendasi anjuran karena telah diketahui efektif
mengendalikan OPT tersebut pada suatu jenis tanaman. Penggunaan dosis atau
konsentrasi formulasi yang tidak tepat akan mempengaruhi efikasi pestisida dan
meninggalkan residu pada hasil panen yang membahayakan bagi konsumen. Informasi
dosis atau konsentrasi anjuran untuk setiap jenis OPT pada tanaman tertentu
dapat dilihat pada label atau kemasan pestisida.
f. Tepat
Cara Penggunaan. Pada umumnya penggunaan pestisida diaplikasikan dengan cara
disemprotkan. Namun demikian, tidak semua jenis OPT dapat dikendalikan dengan
cara disemprot. Pada jenis OPT tertentu dan tanaman tertentu, aplikasi
pestisida dapat dilakukan dengan cara penyiraman, perendaman, penaburan,
pengembusan, pengolesan, dll. Informasi tersebut dapat diperoleh dari brosur
atau label kemasan pestisida.
G. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum Pengenalan
Pestisida yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pestisida
merupakan bahan yang telah banyak memberikan manfaat untuk keberlangsungan
dunia produksi pertanian. Banyaknya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang
dapat menurunkan hasil panen, dapat diminimalisir dengan pestisida.
2. Insektisida, yaitu
pestisida yg digunakan untuk memberantas serangga, seperti belalang, kepik,
wereng, dan ulat.
3. Fungisida, yaitu
pestisida yg dipakai untuk memberantasdan mencegah pertumbuhan jamur atau
cendawan.
4. Bakterisida, yaitu
pestisida untuk memberantas bakteri atau virus.
5. Nematisida, adalah
pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa nematoda
(cacing).
6. Herbisida, yaitu
pestisida yg digunakan untuk membasmi tanaman pengganggu (gulma), seperti
alang-alang, rerumputan, dan eceng gondok
7. Pestisida
yang digunakan sebagai amatan yaitu berjenis pestisida sintetis.
8. Dari
pestisida yang digunakan sebagai amatan, hampir semuanya cara
mengaplikasikannya yaitu dengan cara melarutkan dalam air dan menyemprotkannya
pada tanaman yang terserang.
9. Hama
sasaran dari pestisida yang digunakan sebagai amatan yaitu hama penggerek,
penghisap buah, perusak daun, tirips, ulat grayak, serta ulat api.
DAFTAR
PUSTAKA
Benn, F.R [ and ]C.A. Mac Auliffe. (1975). Chemistry
and pollution. New York: The Mac Millan Press.
Ekha, Isuasta. (1988). Dilema pestisida .
Yogyakarta: Kanisius
Endah. (2005). Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman.
Agromedia Pustaka: Jakarta.
Harahap. (1997). Pengendalian Hama Penyakit Padi. Jakarta
: Penebar
Swadaya.
Hidayat Natawigena dan G. Satari. (1981). Kecenderungan
Penggunaan Pupuk dan Pestisida dalam Intensifikasi Pertanian dan Dampak
Potensialnya Terhadap Lingkungan. Seminar terbatas 19 Maret 1981.
Ekologi Unpad Bandung.
Matnawy. (1991). Perlindungan Tanaman. Kanisius:
Yogyakarta.
Mulyani, S. dan M. Sumatera. (1982). Masalah Residu
Pestisida pada Produk Hortikultura. Simposium Entomologi, Bandung 25 –
27 September 1982
Oka, Ida Nyoman. (1995). Pengendalian Hama
Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta.
Pracaya. (2008). Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman.
USU Press: Medan.
Untung, K. (1984). Pengantar Analisis Ekonomi
Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset

0 Response to "Laporan Praktikum OPT Pengenalan Pestisida"
Post a Comment